Gigi Indah, Senyuman Menawan

By June 25, 2015March 10th, 2019General

“Laugh? Why not?” Tersenyum dan tertawa merupakan suatu respon alami tubuh terhadap rangsangan yang diterima oleh sistem sensorik kita. Setelah otak menerima sinyal dan mengolahnya, kemudian memerintahkan pergerakan otot motorik tubuh untuk memberikan respon. Otot wajah melakukan pergerakan, sudut bibir bergerak naik ke atas, diikuti tampaknya gigi geligi karena mulut yang terbuka atau hanya senyuman saja. Secara anatomis, pergerakan bibir saat tersenyum membentuk kurva melengkung ke atas didukung oleh posisi gigi geligi di rongga mulut kita. Saya teringat pada pelajaran anatomi gigi pada semester awal perkuliahan di FKG, dosen ketika itu sedang menjelaskan trik untuk membedakan apakah gigi yang telah dicabut tersebut merupakan gigi kiri atau kanan. Beliau berkata, “Lengkung senyum dilihat dari depan semakin ke belakang (menjauhi garis bagi wajah) semakin tinggi, posisi gigi juga seperti itu.” Hal ini seperti seakan-akan alam semesta mendukung proses tersenyum dengan posisi gigi pada lengkung rahang yang mendukung pergerakan untuk membuat senyuman bahagia, bukan cemberut dengan membuat lengkung bergerak ke bawah.

Pada proses tersenyum dan tertawa, gigi merupakan objek yang tampak oleh mereka yang melihat kita. Warnanya yang putih kekuningan menjadi kontras dengan warna lain di wajah seseorang. Lalu bagaimana cara mendapatkan senyuman menawan dengan gigi yang indah? Hal ini tidak terlepas dari oklusi dan lengkung gigi yang dimiliki oleh setiap orang. Oklusi merupakan keadaan berkontaknya gigi geligi antara rahang atas dan rahang bawah, meliputi kondisi antar rahang (inter-arch) dan dalam rahang (intra-arch); meski definisinya lebih sering dihubungkan dengan kondisi antara dua rahang. Rahang atas atau maksila bersifat statis karena struktur tulangnya menyatu dengan tulang tengkorak; sedangkan rahang bawah bersifat dinamis karena memiliki hubungan sendi (temporomandibular joint) sehingga memungkinkan untuk melakukan berbagai arah pergerakan. Pergerakan inilah yang terjadi ketika kita berbicara, membuka mulut, dan tertawa lepas.

Oklusi antar rahang yang baik menurut ilmu kedokteran gigi dilihat dari posisi gigi geraham rahang atas dan rahang bawah, terdapat tiga jenis oklusi yang dikemukakan oleh Angle yaitu neutro-occlusion yang bersifat normal di mana puncak tonjolan pertama pada sisi gigitan geraham pertama atas (mesiobuccal cusp M1) berada pada lembah geraham pertama bawah (buccal groove M1); disto-occlusion di mana rahang atas terkesan lebih maju dengan puncak tonjolan belakang geraham pertama atas (distobuccal cusp M1) berada pada lembah geraham pertama bawah (buccal groove M1); dan mesio-occlusion merupakan kondisi rahang bawah yang lebih maju dengan puncak tonjolan depan geraham pertama atas (mesiobuccal cusp M1) berada di antara gigi geraham satu dan dua bawah (interdental M1 dan M2). Dengan menilai hubungan oklusi ini dapat dilihat secara sederhana apakah seseorang mengalami penyimpangan oklusi atau oklusinya baik. Pemeriksaan dapat dilanjutkan dengan melihat posisi hubungan rahang, yaitu dengan tracing sudut pada hasil foto roentgen; untuk melihat apakah kelainan itu berasal dari posisi tulang tengkorak kita atau dari posisi gigi saja.

Capture

Pada oklusi, gigi geligi juga dilihat susunannya dalam satu rahang yang sama. Pergeseran maupun rotasi gigi banyak terjadi; umumnya disebabkan adanya celah akibat gigi yang sudah dicabut atau adanya lubang pada sisi gigi, mengakibatkan pergerakan. Perlu pula diperiksa arah tumbuh gigi bungsu pada usia 18-21 tahun karena cenderung tumbuh miring dan mengakibatkan gigi geligi lainnya terdorong sehingga susunan lengkung gigi menjadi tidak rapi. Pada kasus di mana klasifikasi oklusi normal, dengan susunan gigi yang sedikit kurang teratur, perawatannya tidak terlalu sulit dapat hanya menggunakan alat ortodonsia lepasan. Pada pasien yang didiagnosa mengalami penyimpangan oklusi, atau pada oklusi normal tapi susunan giginya butuh perawatan yang cukup sulit, digunakan alat ortodonsia cekat (kawat behel).

2

Perawatan dan perbaikan pada hubungan oklusi serta susunan gigi geligi akan menghasilkan posisi gigi yang lebih baik dan rapi. Tentu saja hal ini dapat menambah nilai estetika yang dimiliki seseorang. Namun tidak hanya melihat pada hubungan tersebut, gigi juga harus memiliki kesehatan yang optimal. Pemeliharaan kesehatan gigi yang optimal akan menjaga gigi geligi agar terhindar dari karies dan memiliki warna yang sesuai. Beberapa tips yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan dan penampilan gigi antara lain sebagai berikut.

  1. Sikatlah gigi minimal 2 kali sehari, terutama malam sebelum tidur

Proses menyikat gigi merupakan hal yang mutlak untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut. Pilihlah sikat yang tidak terlalu keras agar tidak mengiritasi jaringan lunak rongga mulut. Menyikat gigi akan membersihkan permukaan gigi dari debris dan plak sehingga kolonisasi bakteri dapat berkurang. Proses demineralisasi permukaan gigi oleh bakteri karena banyaknya debris dan gula sebagai substansi yang dibutuhkan bakteri akan menyebabkan karies. Pada malam hari sebelum tidur, sikatlah gigi karena waktu tidur saliva yang dikeluarkan berkurang (irama sirkadian) sehingga efek self cleansing juga minimal. Kondisi gigi yang bersih merupakan langkah optimal menjaga kesehatan gigi.

  1. Gunakan dental floss untuk membersihkan daerah interdental

Pada gigi yang mengalami crowding (susunannya kurang rapi) dapat digunakan dental floss untuk membersihkan sela-sela gigi agar makanan yang terselip dapat terangkat. Pembersihan daerah interdental ini baik pula manfaatnya untuk menjaga gusi bebas dari reaksi inflamasi. Sebagaimana plak atau kotoran yang terselip merupakan benda asing sehingga dapat menimbulkan inflamasi gingiva berupa gingiva yang kemerahan dan mudah berdarah.

  1. Perbanyak minum air putih dan konsumsi makanan berserat

Minum air putih dan konsumsi makanan berserat meningkatkan kandungan air dalam tubuh. Saliva yang tidak terlalu kental akan memberikan efek pembersihan gigi dan rongga mulut yang lebih baik. Minumlah air putih setelah mengkonsumsi minuman kental seperti susu, kopi, dan teh. Kopi dan teh memiliki zat warna yang dapat menyebabkan gigi berwarna kekuningan hingga kecoklatan, minum air dapat mengurangi efek tersebut.

  1. Kontrol ke dokter gigi

Rajinlah kontrol ke dokter gigi setidaknya 6 bulan sekali. Pada beberapa kondisi, sisa makanan dapat mengalami mineralisasi menjadi kalkulus (karang gigi). Kalkulus tidak dapat dibersihkan dengan proses pembersihan biasa melainkan membutuhkan alat yang dimiliki dokter gigi.

  1. Tetap percaya diri dan tersenyumlah!

Hubungan gigi geligi dapat mengalami perbaikan misalnya dengan menggunakan alat ortodonsia, serta kondisi gigi geligi dapat dirawat dengan menjaga kesehatan rongga mulut. Tetapi hal yang paling penting adalah tetap percaya diri dan cintai diri Anda sebaik mungkin, tersenyumlah dan biarkan senyum tersebut membahagiakan orang-orang di sekitar Anda.

/FennyKamadi/

error: Content is protected !!